.post-body img { max-width:100%; height:auto; }

Saturday, 16 January 2021

Best Friend


Aku adalah seseorang yang lumpuh. Semua itu bermula ketika aku mengalami kecelakaan semasa masih di sekolah dasar. Aku tidak bisa lagi berjalan. Kakiku patah. Satu-satunya caraku untuk bisa bergerak adalah dengan menggunakan kursi roda ini.

Semenjak aku menggunakan kursi roda, aku di jauhi oleh teman-temanku. Aku hampir tidak memiliki teman semasa sekolah. Bukan hanya temanku, bahkan beberapa kali aku memergoki kedua orang tuaku melihat ke arahku dengan tatapan jijik, hina.

Kini aku telah dewasa. Aku kuliah di salah satu universitas terbaik di kotaku. Namun tetap, aku menjadi objek bully dan diasingkan mahasiswa lain. Ketika OSPEK aku selalu kena sasaran para senior.

Aku sendiri bingung.

Kenapa nasibku begitu buruk sekali di dunia ini ?

Beberapa kali aku pernah berniat untuk bunuh diri tapi tidak jadi melakukannya. Aku merasa kasihan kepada orang tua.

Bagaimana nanti kalau mereka sedih?

Aku masih anak mereka 'kan ?

Meski mereka sering menatapku dengan tatapan hina.

Tapi dari semua kemalangan itu, setidaknya Tuhan masih ingat untuk memberi sedikit kebahagian padaku. Di universitas ini akhir aku memiliki seorang teman, namanya Kevin. Dia satu jurusan denganku. Aku mengambil jurusan seni lukis sedangkan dia mengambil jurusan seni patung.

==============================================

“Hei Bart!” Aku mendengar suara memanggilku dari kejauhan.

Aku menoleh kebelakang.

“Oh hai Kevin!” Ucapku sambil melambaikan tangan ke arahnya.

Kevin berlari kecil menuju ke arahku.

“Baru selesai kuliahnya?” tanyanya.

"Iya. Sekarang mau pulang. Menunggu jemputan papa” jawabku.

“Untuk hari ini biar aku yang mengantarmu ! Aku sedang bosan!” ucapnya.

“Tapi kan..” ucapanku terhenti saat Kevin menelfon papaku.

“Halo, Pak John ! Ini saya Kevin. Ya. Hari ini saya yang akan mengantar Bart pulang. Tidak apa-apa pak. Tidak merepotkan kok. Baik pak. Selamat siang” ucap Kevin di telefon.

“Tuh Papamu tidak keberatan hahaha” ucap Kevin ke arahku.

“Baiklah kalau begitu, ayo antarkan aku pulang” ucapku.

Kami berjalan menuju mobil Kevin. Dia membantuku masuk ke mobilnya.

Dia mulai menyalakan mobilnya dan kami berangkat.

“Lhoh, ini kan bukan arah rumahku?” tanyaku.

“Hehe, aku tadi sudah bilang kan? Aku bosan” jawabnya.

“Lalu kita mau kemana?” tanyaku.

“Ke tempat untuk menghilangkan bosan Hahaha”

“Yaah baiklah. Selama orang berkursi roda sepertiku boleh masuk ke dalamnya.” jawabku.

“Tentu saja” jawabnya singkat sambil terus fokus menatap ke arah jalan.

Kami berkendara cukup pelan. Sekitar 30 menit, kami sudah sampai di suatu tempat.

“MUSEUM SENI”

“Wah!” ucapku

“Hehe, aku kalau bosan suka kesini. Kebetulan kamu kan juga jurusan seni dan aku baru kali ini mengajakmu kesini. Pasti kau akan menyukai tempat ini” ucap Kevin.

Kami pun lantas masuk. Kami di sambut dengan begitu banyak lukisan indah karya para seniman kelas dunia. Mataku tak henti-hentinya terbelalak mengagumi semua karya indah itu.

“Eh, tunggu sebentar disini ya. Aku ke toilet dulu” ucap Kevin.

“Iya. Agak cepet” ucapku.

Dia pun langsung lari ke arah toilet. Tinggal aku sendirian disana. Aku mengarahkan kursi roda ku mendekat ke lukisan-lukisan itu untuk menikmatinya dari dekat.

Lalu tibalah aku di sebuah lukisan yang berisi tentang potret anak-anak remaja sedang bermain bersama di atas bukit. Aku memandangi lukisan itu agak lama dan sesekali aku melihat ke arah kakiku. Aku sedikit sedih dan mataku mulai berkaca-kaca.

'Kenapa aku harus mengalami semua ini?’ ucapku dalam hati.

“Hahaha. Kau ingin melakukan apa yang mereka lakukan ya? Gak mungkin bisalah! Kau kan lumpuh. Hahahaha!”

Tiba-tiba aku mendengar seseorang tertawa di belakangku. Ketika aku melihat ke arah suara itu, ternyata itu adalah teman-teman SMA ku dulu yang sering membullyku. Aku hanya diam mendengar mereka. Karena apa yang dia katakan itu memang benar. Aku lumpuh dan tak bisa pergi kemanapun kecuali menggunakan kursi roda ini.

“Hei! Jangan ganggu dia!” aku mendengar suara Kevin.

“Hei siapa kau? Babysitter Bart?” teman SMA ku mengejek Kevin.

“Pergi kau! Atau ku pukul kau!” ucap Kevin sambil mengepalkan tangan nya.

“Sudah lah, ayo kita pergi kawan. Kita tidak ada urusan dengan dia disini!”

Lalu mereka pergi.

"Kau tidak apa-apa Bart?” Tanya Kevin.

"Aku tidak apa-apa. Tapi memang benar apa yang mereka katakan. Aku ini lumpuh dan tidak berguna!” Ucapku sambil sedikit tersenyum.

"Halah sudah lupakan. Ayo kita lanjutkan saja melihat-lihat karya seni disini!” Ucapnya.

Lalu kami pun melanjutkan ke ruang berikutnya. Di ruangan kali ini terdapat banyak karya seni berupa patung. Patung-patung bergaya Yunani. Lalu Kevin berhenti di sebuah patung sedikit lama.

“Ada apa?” Tanyaku.

"Lihatlah patung ini. Hanya memiliki satu kaki tapi sang pemahat itu bisa dengan indahnya membuat patung ini terlihat begitu memukau. Pasti siapapun model patung ini, dia sangat bahagia melihat dirinya bisa berdiri sendiri meski hanya dalam versi patung. Lihat lah ukiran senyum pada bibir patung itu” Jelasnya.

"Benar juga.Kau kapan membuat patungku? Hahaha” Ucapku bercanda.

"Nanti kalau aku sudah ada waktu luang hahaha” Jawabnya sambil tertawa keras.

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Kulihat jam menunjukkan pukul 19.00.

"Wah gila sih. Kita sampai lupa waktu” Ucapku

“Karena karya-karya disana begitu indah hingga membuat kita lupa waktu” Ucap Kevin.

"Ya sudah. Ayo ku antar pulang” Lanjut Kevin.

Kami pun berangkat pulang.

“Aku pulang!” Ucapku ketika sampai di rumah.

“Lhoh Kevin, ayo mampir dulu makan malam. Sudah tante siapin” Ucap mamaku.

“Benar Kevin! Ayo makan dulu. Hitung-hitung membalas perbuatanmu di museum hari ini. Hehe” Ucapku.

“Hehe, baiklah kalau kau memaksa” Ucapnya sambil tertawa kecil.

Kami berjalan menuju ruang makan.

"Jadi hari ini kalian kemana?” Tanya mama ku sambil memberikan piring kepada Kevin.

“Kami pergi ke museum seni mah” Ucapku.

“Oh” Jawab mamaku.

“Tambah ayamnya Kevin. Istri om kalau masak Ayam selalu enak” Ucap papaku.

"Wah benar kah?” Jawab Kevin.

"Makan yang banyak ya” Ucap Mamaku.

“Oh iya tante, tadi kami melihat begitu banyak mahakarya indah di museum. Sampai membuat kami lupa waktu. Maaf kalau pulang nya agak malam” Ucap Kevin.

“Wah benarkah? Oh iya, kamu ambil jurusan seni patung kan? Pasti berbakat” Ucap mamaku.

“Kevin memang berbakat mah. Dia idola di jurusan nya” Ucapku.

“Oh begitu” ucap mamaku sambil sedikit melirik ke arahku.

Beberapa menit kemudian kami selesai makan.

“Mana piring mu, Kevin? Biar aku bawa ke dapur sekalian” Ucapku.

“Ah tidak usah. Aku bisa sendiri” Ucap nya.

Kami sedikit berebut piring tersebut dan akhirnya piring itu terjatuh dan pecah.

“BART! ANAK SIALAN! CEROBOH SEKALI KAU! KAU ITU LUMPUH, JANGAN SOK MELAKUKAN APAPUN!” Teriak mamaku.

“DENGAR TUH APA KATA MAMA MU!” ucap papaku.

Aku hanya menunduk diam.

“Om, tante, tidak apa-apa kok. Jangan marahi Bart. Dia tidak salah” Ucap Kevin.

“Aww, kamu manis sekali mau membela Bart” Jawab mamaku.

“Baiklah, tante, om saya pulang dulu ya” Pamit Kevin.

“Iya, hati-hati ya. Kapan-kapan mampir lagi” Ucap Papaku.

“See ya Kevin!” Ucapku.

“See ya Bart!” Ucap Kevin sambil memasuki mobilnya dan pergi.

Mama dan Papa langsung pergi masuk ke rumah begitu Kevin sudah pergi.

“Mah pah aku tidur duluan ya” Ucapku.

“Ya!” Ucap mama ku singkat.

Aku pun lantas pergi menuju kamarku dan tidur.

Sekitar tengah malam aku terbangun karena haus. Aku pergi menuju dapur untuk minum. Secara tidak sengaja aku melihat lampu di kamar orang tua ku masih menyala.

Aku mendekat.

Samar-samar aku mendengar mereka sedang beradu argumen.

‘Pah, aku malu punya anak cacat!' Ucap mamaku.

‘Apa menurut mama, papa tidak malu? Anak laki satu-satu nya dan cacat.’ Ucap papaku.

‘Kenapa dia tidak mati saja waktu kecelakaan itu’ Ucap mamaku.

Aku hanya diam dan gemetar mendengar semua itu.

Aku langsung kembali ke kamar dan berusaha untuk segera tidur. Aku memejamkan mata berharap akan segera tertidur dan melupakan semua yang baru kudengar. Namun bukannya terlelap, air mata justru keluar begitu deras membasahi pipiku.

'Aku juga tidak ingin lumpuh pah, mah’ Gumamku sambil terisak. Aku menangis semalaman hingga tanpa sadar aku sudah terlelap tidur.

Keesokan paginya.

*beep beep*

Terdengar suara klakson mobil dari luar.

Itu Kevin.

“Pagi tante, om” Ucap Kevin.

“Pagi, mari ikut sarapan” Ajak mamaku.

“Makasih tante, tapi tadi Kevin sudah sarapan di rumah” Jawab Kevin.

“Kevin mau menjemput Bart untuk kuliah tante.” Lanjut Kevin.

“Bart! Kamu jangan menyusahkan Kevin lhoh!” Ucap mama ku ketus.

“Oh tidak tante, ini keinginan Kevin sendiri kok. Yuk Bart” Ucap Kevin.

Kevin mendorong kursi rodaku menuju mobilnya.

“Kami berangkat dulu om tante” Pamit Kevin.

"Iya , hati-hati di jalan ya” Balas mama

“Aku berangkat dulu pah mah” Pamitku

“Ya” Balas papa ku singkat.

Kami berangkat.

Ketika di dalam mobil Kevin bertanya kepadaku.

“Kau baru saja menangis ya Bart ? Matamu terlihat sembab” Tanya Kevin.

“Ah tidak. Semalam terbangun tengah malam dan insomnia” Jawabku.

“Lhoh, ini kemana ? ini bukan arah ke kampus” Ucapku ketika melihat mobil Kevin berbelok ke arah yang berlawanan dari arah ke kampus.

“Hehe sudah ikut saja” Jawabnya.

Beberapa menit kemudian kami sampai di sebuah rumah.

“Ini rumah siapa?” Tanyaku

“Selamat datang di rumahku” Jawab Kevin.

Memang ini baru pertama kali aku di ajak ke rumahnya. Kami pun lalu masuk.

“Permisi” Ucapku.

“Tenang saja, ayah dan ibuku sedang pergi ke luar kota.” Ucap Kevin.

“Tunggu sebentar , aku buatin teh” Lanjut Kevin.

Aku hanya mengangguk.

Ku amati rumah ini begitu besar. Mungkin hampir dua kali nya rumahku.Sangat luas dan begitu banyak ruangan.

“Maaf lama menunggu, silahkan diminum tehnya” Ucap Kevin sambil membawa nampan berisi satu gelas teh.

“Wah kenapa repot-repot hehe” Ucapku.

“Tidak apa-apa” Jawabnya.

“Sekarang jujur, kamu semalam menangis kan?” Lanjut Kevin

“Tidak. Sudah aku kasih tahu kan alasan mataku sembab karena aku insomnia” Jawabku.

“Tidak usah berbohong. Aku melihat sendiri orang tua mu memperlakukanmu dengan sangat kasar. Itu sangat menyakitkan jika aku menjadi dirimu Bart” Ucapnya.

Aku hanya diam. Lalu perlahan mataku kembali penuh dengan air mata.

“Haha, Aku cengeng sekali ya. Aku ini laki-laki. Tak sepatut nya laki-laki itu menangis kan?” Ucapku sambil mengusap mataku.

“Hey, menangis itu manusiawi. Kecuali jika kau ini malaikat atau semacamnya yang tidak memiliki emosi hehe” Ucap Kevin sambil melihat-lihat ke punggungku.

“Kenapa sih?” Ucapku

“Aku ingin memastikan jika kau benar-benar manusia bukan malaikat yang memiliki sayap Hahaha” Ucap Kevin

“Hahaha, bisa saja kau” Ucapku.

“Andai saja aku bisa membantumu. Semua ini terjadi karena kelumpuhanmu ini ya?” tanyanya.

“Sepertinya begitu. Semenjak aku jatuh lumpuh, perlakuan kedua orang tuaku berubah drastis. Mereka menjadi sangat kasar kepadaku. Mereka malu memiliki anak cacat sepertiku” Jelasku.

“Hey! Mereka seharusnya tidak boleh seperti itu. Benar Bart, seandainya aku bisa membantumu. Apapun itu. Jika Aku bisa membuat keajaiban, Aku pasti akan mengembalikanmu seperti sedia kala,Bart” Ucap Kevin.

“Dengan mu menjadi sahabatku, itu sudah sangat membantuku. Terima kasih sudah menghiburku hari ini” Ucapku.

“Hehehe. Sampai lupa. Ayo diminum Teh nya. Hati-hati aku sudah menaruh obat tidur di dalam nya lho Hahaha” Ucap Kevin sambil tertawa keras.

"Aduh aku takut!” Ucap ku sambil meminum habis teh itu.

“Sebentar aku kamar mandi dulu. Anggap saja rumah sendiri” Ucap Kevin.

“Okay” Jawabku singkat.

Kevin pun pergi ke kamar mandi.Aku menggerakkan kursi rodaku ke sekeliling rumah Kevin.Ada satu ruangan yang memiliki tulisan “Art” di pintunya.

Aku pun penasaran dan mengarahkan kursi rodaku kesana.

Pintunya tidak di kunci.

‘Wah! Banyak sekali patung disini’ Gumamku.

Lalu samar-samar tercium aroma tidak sedap di dalam ruangan  itu. Aku menutup hidungku.Setelah ku cermati, patung-patung itu hampir semuanya cacat.

Ada yang tidak memiliki tangan, ada yang hanya punya satu mata, ada yang hanya memiliki satu kaki dan sebagainya.

Namun ada satu hal yang menyita perhatianku, mata dari patung-patung itu terlihat sangat hidup dan nyata.

‘Aku tidak tahu dia benar-benar menyukai seni semacam ini’ Gumamku.

Tiba-tiba saja kepalaku mulai pusing. Pandanganku sedikit kabur.

‘Aduh kenapa ini’ Gumamku.

*BUUKKK*

Sebuah benda tumpul menghantam tengkukku dengan cukup keras.

Aku pun pingsan.

==================================================

Beberapa saat kemudian aku tersadar.

‘Ah akhir nya selesai juga’ samar-samar aku mendengar suara Kevin.

“Oh hai! Kau sudah bangun!” Ucap Kevin.

“Maaf aku tadi memukulmu, karena reaksi obat itu terlalu lama. Aku tidak sabar” Lanjutnya.

‘Jadi dia yang memukulku, tapi kenapa?’ Gumamku yang saat itu masih sedikit pusing.

‘Tunggu sebentar, ada yang tidak beres. Aku bisa berdiri sendiri.

Apakah aku sudah tidak lumpuh lagi?’

“Aku telah selesai membuat keajaiban kepadamu. Kau sekarang bisa berdiri sendiri” Ucap  Kevin bahagia.

“Hrrm Hrrmmvin” Bibirku tidak bisa terbuka untuk berbicara.

‘Kenapa ini?’ Gumamku.

“Apa? Aku tidak bisa mendengarmu?” Ucap Kevin.

‘Tunggu sebentar, aku juga tidak bisa menggerakkan tubuhku. Apa yang terjadi’ gumamku.

Aku mencoba membuka mataku lebar-lebar. Satu-satunya bagian tubuhku yang bisaku gerakkan adalah bola mataku.

“Ah maaf, kau pasti kebingungan. Tunggu akan ku ambilkan cermin agar kau bisa melihat dirimu yang baru” Ucap Kevin sambil pergi keluar.

Beberapa saat kemudian dia kembali membawa cermin besar.

“Silahkan nikmati mahakarya terbaruku serta keajaiban yang baru saja aku ciptakan terhadapmu” Ucap Kevin bangga.

‘I-indah sekali’ gumamku sambil meneteskan air mata.

“Aww, kau sampai terharu” ucap Kevin.

'Aku akhirnya bisa berdiri sendiri tanpa kursi roda itu lagi’ gumamku.

“Sekarang kau tidak memerlukan kursi roda ini, biar ku taruh gudang saja ya” Ucap Kevin sambil membawa pergi kursi rodaku.

Air mata tidak berhenti mengalir.

‘Mah, Pah, akhirnya aku bisa berdiri sendiri. Aku sekarang sudah tidak lumpuh. Kalian pasti akan kembali menyayangiku’ gumamku dengan perasaan penuh bahagia.


Story by : Archangel

No comments:

Post a Comment

Blog Archive