.post-body img { max-width:100%; height:auto; }

Friday, 22 July 2022

OBSESSIVE COMPULSIVE DISORDER (OCD)

 Hidup dengan gangguan obsesif kompulsif bisa menjadi suatu kutukan. Tetapi itu sudah menjadi hal yang normal dalam hidupku selama bertahun-tahun sehingga aku jarang mengalami stress lagi.

𝑆𝑎𝑡𝑢 𝑑𝑢𝑎 𝑡𝑖𝑔𝑎

Aku menutup pintu lemari tiga kali setelah mengeluarkan sekantong teh dari rak atas.

𝑆𝑎𝑡𝑢 𝑑𝑢𝑎 𝑡𝑖𝑔𝑎

Aku mencelupkan kantung teh ke dalam cangkir tiga kali, memastikan teh itu terendam sepenuhnya.

𝑆𝑎𝑡𝑢 𝑑𝑢𝑎 𝑡𝑖𝑔𝑎

Kutiup permukaan cairan cokelat itu untuk mendinginkannya.

𝑆𝑎𝑡𝑢 𝑑𝑢𝑎 𝑡𝑖𝑔𝑎

Yah, kau dapat menebaknya, tiga seruputan yang cepat. Putaran berulangku ini bagaikan buku yang cantik, aku tidak bisa mengganggu urutannya, atau aku harus mulai menghitung dari awal. Setelah minum teh pagi, aku kembali ke atas, menaiki dan menuruni tangga tiga kali, untuk membangunkan istriku, Gale.

Aku mendorong kursi rodanya ke samping tempat tidur dan mengangkatnya dari kasur ke kursi, kursi ke kasur, lalu kasur ke kursi. Dia tidak terlalu menyukai proses ini tetapi ia tetap mencintaiku. Aku beruntung memiliki pasangan yang pengertian, aku tahu gangguanku bisa sangat mengganggu dan membosankan.

Ia tersenyum padaku saat aku memberinya tiga kecupan cepat di dahi. Aku mendorong kursi rodanya ke puncak tangga dan mulai membantunya naik ke lift kursi di sebelah tangga, namun aku kehilangan pijakan. Gale berteriak ketakutan saat dia terlempar dengan kasar dan jatuh dari tangga. Aku dengan cepat bergegas turun, kembali ke atas, ke bawah, kembali ke atas dan kemudian ke bawah sebelum merengkuhnya ke dalam pelukanku. Ia menangis kesakitan dan terkulai di lantai kayu, sebuah fragmen tulang menonjol dari pergelangan tangannya.

"Maafkan aku, Gal!" Aku menangis saat aku mulai menggendongnya kembali menaiki tangga.

"John, berhenti ... apa yang kamu lakukan?" Ia menangis. Aku berhenti di puncak tangga. 𝑀𝑎𝑎𝑓, kataku padanya saat air mata mengalir di wajahku. Aku kemudian menggulingkannya kembali menuruni tangga. Dia jatuh terguling sebelum wajahnya terhantam di bagian bawah. Aku yang mengulangi prosesnya, menangis kesakitan. Kali ini ia hampir tidak sadar ketika aku membawa tubuhnya yang lemas kembali ke atas, wajahnya hancur berkeping-keping.

"Aku minta maaf …"

“Berhenti … tidak …”

Aku tidak bisa menahan diri, aku harus melakukannya tiga kali.

Sc : subreddit

No comments:

Post a Comment

Blog Archive