4D adalah passion-ku. 4D adalah hidupku.
4D juga merupakan awal bagiku dalam dunia bisnis
lotere. Ayahku membeli 4D sejak aku berusia 6 tahun. Dia pasti memiliki
keberuntungan atau pintar perhitungan peluang matematika karena dia selalu
menebak angka teratas setiap saat. Bahkan, dia sangat beruntung sehingga tak
perlu mencari pekerjaan lagi. $500 yang dia dapatkan setiap kali sudah cukup.
Ketika aku berusia 18 tahun, ia membawaku ke toko
taruhan untuk pertama kalinya. Aku ingat kegembiraan yang kurasakan ketika
menyerahkan selembar kertas kepada petugas. Aku ingat berlari kembali ke rumah
dengan jantung yang berdebar kencang. Aku ingat membaca hasilnya di koran
keesokan harinya, dan menyadari bahwa aku memenangkan hadiah kedua. HADIAH
KEDUA.
Ayah bangga denganku. Mukanya berseri-seri ketika
kutunjukkan kepadanya kemenanganku, dan uang itu diserakkan di meja makan,
dikagumi layaknya karya seni yang sangat indah.
Sejak saat itu, toko taruhan sudah seperti rumah
keduaku. Berlari ke sana untuk membeli dan memeriksa nomor-nomor di koran
menjadi hampir seperti rutinitas harian. Namun, kebanyakan, aku tidak
memenangkan apa pun.
Aku frustrasi. Aku putus asa. Namun aku tetap
bertekad. Aku masih bisa dan pasti bisa memenangkan ini.
Jadi aku mulai mencari cara tentang bagaimana
meningkatkan peluangku untuk menang, hingga kutemukan iklan tersebut. Huruf -
huruf besar bercetak tebal yang berwarna
- warni. Peluang menang lebih besar. Tiga kali lipat uangnya.
Aku hanya perlu memberi mereka sedikit sesuatu
yang ekstra. Persis seperti apa yang kubutuhkan.
Aku membangunkan ayahku keesokan paginya.
Kukatakan kepadanya bahwa aku akan mengajaknya ke toko taruhan 4D, hanya kami
berdua, ayah dan anak. Ia menyetujui dengan cepat. Ia semakin tua sekarang,
wajahnya keriput dan kasar, rambutnya abu-abu keperakan. Namun tawanya bisa
menerangi ruangan.
Kami naik taksi ke toko taruhan yang disebutkan
dalam iklan. Aku berjalan ke arah mereka dan menyerahkan tiket dan uangku
kepada mereka. Aku membeli sepuluh dari mereka kali ini. Dan :
“Ini dia. Ambil apa pun yang kau inginkan darinya.
” kataku dalam bahasa Kanton sambil mendorong ayahku ke depan. Ia tersentak dan
kembali menatapku, wajahnya memohon. Tapi wajahku datar ketika lelaki tua yang
bertugas membuka gerbang dan menyeret ayahku ke dalam.
Aku berbalik dan berjalan pergi saat jeritan
ayahku menggema keluar dari toko. Mereka benar - benar serius mengambil
pembayarannya : mata, lengan, kaki, apa pun yang mereka inginkan. Darah
menggenang keluar dari pintu masuk dan mengalir ke saluran pembuangan.
Malam itu aku memeriksa situs web. Meskipun
membeli 10 tiket, tidak ada satupun nomor yang kupertaruhkan berhasil diundi.
Aku menggertakkan gigiku frustasi. PASTI, suatu hari aku akan memenangkan
jutaan dolar itu.
Adikku mengintip dari balik bahuku. "Apa
ini?"
"4D," kataku.
"Katakan, apa kau mau ikut denganku ke toko
taruhan besok?"
-------------------------------------------------------------------------
No comments:
Post a Comment