Di sebuah kota yang gelap dan tak terawat, mengesankan
kengerian pada tempat itu. Bukanlah hal yang aneh jika kau terasa ketakutan
yang mendalam. Bagaimana tidak? Kau tahu? Kota yang kau tempati ini adalah
tempat oleh psikopat yang selalu menghiasi daftar
pembunuhan.
pembunuhan.
Dalam kesendirian aku berjalan. Mengarungi lautan kengerian
dan kebisingan bisikan kegelapan. Kugerakan kakiku menyusuri jalanan yang
berpenerangan lampu jalan yang remang – remang. Aku berjalan bergontai – gontai.
“Kenapa aku berjalan sejauh ini?”
Kulanjutkan berjalan hingga ke rumahku. Rumah indah dengan
cat berwarna putih kusam. Aku masuk dan semua berubah.
Ketakutan telah menusukku hingga ketulang – tulang.
Bagaimana tidak? Kulihat tubuh sang istriku terduduk dengan bagian perut yang
kosong. Tak hanya itu, ketakutanku semakin menjadi – jadi. Kulihat jasad anakku
sudah tak bernyawa. Namun, sebuah tubuh badut yang tak berlengan kanan
tergeletak di sisi mayat anakku.
Kenapa aku mempedulikannya, Ah, sudahlah. Seharusnya aku ada
disaat – saat terakhir anak dan istriku.
Maafkan aku nak, dan maaf istriku
tersayang.
Semua air di mataku mengalir deras.
“Apakah kau ingin melihat istri dan anakmu bergembira?”
Setelah kata itu masuk ke telinga. Kulihat sesosok tinggi,
berjaket putih yang terdapat bercak – bercak cairan hitam, Berambut panjang,
memegang dua bilah pisau. Seringai, ya, seringai lebar. Tidak, terlalu lebar
untuk
ukuran manusia.
“Si..si...apa... kau?”
Dengan gemetaran kata itu kulontarkan.
“Nama yang tak pantas kau dengar.”
Dengan sombong orang itu menjawbku.
“Huft... Lebih baik kuantar kau.”
“Ke..mana?”
Lalu kulihat benda mengkilap yang tajam menuju kearahku, dan
itulah hal terakhir yang kulihat.
***
“Hooaam.... lelah sekali aku.”
Rasa kantuk jeff setelah melakukan aksi yang hebat malam ini
menguasainya. Karena terlalu lelah dia terbaring di gang sempit nan gelap yang
mengesankan rasa horror. Ia terbangun di siang hari. Seperti biasa dia kembali
kerumahnya yang indah untuk beristirahat menunggu malam tiba.
Berbaringlah Jeff di ranjangnya yang sederhana nan nyaman. Sambil
menonton televisi dengan acara berita
tentang aksinya
Waktu yang Jeff tunggu tiba, malam yang sunyi, gelap, dan
mencekam. Jeff berkeliling mencari korban yang malang.
Dia berjalan dengan santainya menembus dinginya malam.
Saat melewati tikungan ia melihat dua manusia yang selama
ini mengejarnya, polisi. Kedua polisi itu berbaring dengan isi perut keluar. Jeff
berniat mengabaikan mereka dan tetap mencari mangsa. Namun, rasa penasaran
menghipnotisnya untuk mencari tahu. Tak disangka ia menemukan jejak darah.
Jejak darah itu berakhir disini, di gang yang sama ketika
Jeff tertidur karena kelelahan. Gang yang berpenerangan lampu remang – remang. Dan
dilihatnya seorang wanita kurus bersenjatakan pisau yang lebih kecil dari milik
Jeff. Saat sepasang mata itu menatap mata Jeff. Dikeluarkannya senjata pisau
kesayangannya.
“Bodohnya dirimu, sampai – sampai tak mengenaliku.”
“heh, siapa kau ini?”
“Kau yang membuatku begini.”
Kata itu membuatnya terkejut. Bagaimana tidak? Dialah rival
pertama Jeff. yeah, Jane, Jane Arkensaw. Jeff lah yang membuat monster
itu. Wanita
yang dulunya cantik dan juga tetangga Jeff. Kini berubah dengan muka
yang penuh dengan kengerian dan kulit putih melepuh bekas terbakar.
“Ah, belum mati kau sekarang.”
“Heh, kau tak berubah dari dulu, brengsek kau Jeff.”
“Hahah, penampilanmu jauh lebih baik disaat aku merias
wajahmu.”
“Aku tak datang untuk omong kosong Jeff.”
“Aah, aku merindukan hal ini.”
“Ayo kita mulai.”
Dengan kemampuan dan kekuatan mereka. Mereka menari di gang
yang menyeramkan itu. Mereka menari, menghiasi malam yang sunyi itu. Mereka
berdua terluka dengan sayatan pisau.
“Aaah, sial.”
“Kenapa kau Jane, sudah lelah?” (dengan darah mengalir dari
mulutnya.)
“Tentu tidak.”
“Berniat tuk tidur Jane?”
“Kau saja yang tidur.”
Adu pisau pun berlanjut. Dengan kelihaian mereka, irama yang
sadis nan kejam bermain dengan indah. Cipratan darah menghisai tembok digang
itu. Karena kurangnya konsentrasi Jeff, Jeff tertusuk tepat di perut. Bukan
Jeff jika dia langsung menyerah, dicabutlah pisau itu dari perutnya. Tak menunggu
lama, dia langsung melempar pisaunya. Dengan keberuntungannya, ia mengenai
lengan kanannya. Darah mengalir deras dari lengan kiri Jane. Dia menjerit
kesakitan, pekikan yang dapat didengar dari seluruh penjura gang.
Lagi – lagi, Jeff membelakangi lawannya. Dengan cekatan Jane
menggores indah di punggung Jeff. Jeff meronta – ronta karena kesakitannya.
“Pelajaran bagimu Jeff, janganlah membelakangi musuhmu.”
“Aku tak butuh omong kosongmu.”
Mereka berdua melanjutkan drama mereka. Jeff memaksakan
dirinya tuk berdiri. Dan yah, suara pisau bersentuhan sudah terdengar.
Tangan Jane yang terluka mengurangi kelihaiannya bermain
pisau. Jane terluka berat karena sayatan pisau milik Jeff.
Jeff pun membuat lukisan di perut Jane. Dengan rasa sakit
tak tertahankan, Jane berteriak keras. Jane merebut pisau lipat milik Jeff dari
sakunya. Jane menusuk berkali – kali ke perutnya. Mereka berdua pun berbaring
lemas di gang tersebut. Namun, Jane pun pergi meninggalkan Jeff. Kini hanya
dialah yang berada di gang.
***
Aah, sakit sekali. Sangat sakit. Sialan kau Jane.
Disinilah aku, sendiri dalam kesakitan yang luar biasa. Darah
membanjiri di gang ini. darah dari dua pembunuh.
Ah.. Sakit sekali, dan aku pasti telah kehilangan banyak
darah sekarang.
Semua sudah mulai gelap. Aku masih ragu. Apa yang terjadi
setelah aku mati.
“Hahahahahahah..”
Bodohnya aku disaat – saat seperti ini aku masih bisa
tertawa.
Tapi, tunggu. Siapa disana? Sepertinya ada seorang wanita.
Oh, kenapa dia? Kenapa dia berlari menuju kepadaku?
Mungkin dia Jane, oh Tuhan, apakah ini bisa bertambah baik
hah?
Oh tunggu. Dia bukan Jane. Dia cantik, manis, dan sepertinya
dia pernah membunuh. Sekarang dia berdiri disisiku. Tapi, tapi, dia menggendongku
dan membawaku.
“Hey tukang tidur, bangunlah.”
“Si.. si.. siapa kau ini?”
“Masa kau tak mengenalku, dasar adik yang nakal.”
“Apa ?!”
“kenapa ?”
“Ka.. kakak, itukah kau?”
“Akhirnya kau ingat.”

No comments:
Post a Comment